
Ilustrasi: ecomail
Oleh Sigit Kurniawan
Kalau ditanya seputar kemasan consumer goods, Tetra Pak adalah ahlinya. Lihat saja, nama itu sering tercantum dalam produk makanan dan minuman kemasan di Tanah Air. Lahan bisnis perusahaan ini memang fast moving consumer goods. Khususnya, minuman dan makanan dalam format cair (liquid) seperti susu, teh, aneka jus, puding, dan santan.
Asal tahu saja, perusahaan global yang berbasis di Swedia ini sudah merambah lebih 165 negara. Di Indonesia, Tetra Pak yang mulai beroperasi sejak 1976 merupakan perusahaan dengan konsep B to B. “Klien pertama kami adalah PT Ultrajaya. Pada waktu itu, Ultrajaya memperkenalkan susu UHT dalam kemasan Tetra Pak untuk pertama kalinya,” kata Robert Tumiwa, Commercial Director PT Tetra Pak Indonesia.Pada 1980-an, mereka mulai mampu menggandeng para pemilik merek. Tahun 1982, ABC Central Food (sekarang Heinz ABC Indonesia—red) meluncurkan minuman jus pertama dalam kemasan Tetra Pak. Sinar Sosro juga merilis produk tehnya dalam kemasan yang sama. Tahun 1984, Salim Graha menjadi klien Tetra Pak dengan meluncurkan kemasan minuman soya. Kemudian, Pulau Sambu membangun pabrik santan UHT dan mengemas santan dalam Tetra Pak pada tahun 1989.
Bisnis Tetra Pak pun terus berkembang dengan merangkul semakin banyak customer, seperti Indolakto, Ajinomoto, Sido Muncul, Sari Husada, Tang Mas, Industri Susu Alam Murni, Madu Nusantara, Coca-Cola, Sekar Tanjung, dan sebagainya. Sekarang, Tetra Pak memilki 21 customer dengan ratusan merek.
Bagaimana cara mereka menghasilkan kemasan-kemasan bermutu dan diminati customer? “Salah satu keunggulan proses kemasan kami adalah teknologi aseptic. Teknologi ini membuat produk diproses sedemikian rupa sehingga tidak diperlukan pengawet untuk bertahan lama, tanpa mereduksi benefit dari produk itu sendiri seperti nutrisi, kadar vitamin, tekstur, dan sebagainya,” ujar Robert.
Dipaparkannya, setiap kemasan terdiri dari 6 layer (lapisan), yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri. Misalnya, lapisan alumunium foil membuat lifetime produk bisa mencapai 6-12 bulan. Selama produk ini tidak dibuka, produk aman dikonsumsi. Konsumen juga tidak perlu takut mengkonsumsi produk dalam kemasan Tetra Pak karena kemasan ini berfungsi mengawetkan sampai batas expired date-nya. Keunggulan lainnya adalah brand yang sudah lama dibangun, cost efficiency, kemasan aman dan ramah lingkungan. “Itu semua adalah terjemahan dari moto kami, yakni protects what’s good,” tandasnya.
Tetra Pak Indonesia juga mengeluarkan sejumlah variasi kemasan. Bentuk paling simpel adalah tetra brik atau kotak. Kemasan ini bisa diisi dengan produk bervolume hingga 2 liter. Ada juga kemasan tetra pino aseptic atau bantal. Biasanya kemasan ini digunakan untuk produk susu cair. Kemasan lain adalah tetra classic aseptic, tetra wedge aseptic, tetra prisma aseptic, tetra rex, dan tetra top. Semua material packaging sebagian besar masih impor, sedangkan proses pengemasannya dilakukan oleh masing-masing customer.
“Ada banyak faktor yang wajib diperhatikan dalam pembuatan kemasan ini. Khususnya yang terkait dengan target konsumen, para peritel, dan pemilik merek,” terang Robert. Terkait dengan konsumen, sebuah kemasan harus memilki value for money, apa yang dibeli harus berguna. Termasuk juga sisi convenience (kepraktisan) dan aman sesuai dengan kualitas yang diharapkan.
Faktor usia dan latar belakang konsumen pun patut diperhatikan. Untuk anak-anak, misalnya, kemasan dibuat sepraktis mungkin dengan volume kecil. “Kami selalu mencoba memahami kebutuhan para konsumen ini,” imbuhnya.
Kebutuhan peritel juga penting. Sebab, bagi para peritel, space itu mahal. Oleh karena itu, kemasan sebisa mungkin memberikan ruang yang efisien di toko. Termasuk juga memberi daya atraksi, terutama terkait dengan kecenderungan impulse buying. Efisiensi tidak hanya menyangkut primary packaging, tetapi juga secondary packaging. Hal ini terkait dengan daya tampung gudang.
Sementara itu, kemasan juga harus memperhatikan kepentingan pemilik merek. Terutama dalam efisiensi cost. Selain itu, kemasan juga tentunya bisa mengekspos merek. Apalagi merek ini terkait dengan kualitas, image, dan corporate-nya sendiri.
Robert menegaskan, dalam kemasan terkandung maksud proteksi atau perlindungan terhadap produk itu sendiri. Di samping itu, kemasan juga harus informatif misalnya dalam hal kandungan nutrisi dan branding. Agar kemasan punya daya tarik, lanjutnya, desainnya mesti sesuai dengan target market. Desain ini menyangkut warna, ilustrasi, bentuk, dan printing. Produk anak-anak biasanya didesain dengan karakter fun, lucu, meriah, dan warna-warni. Hal serupa dilakukan pada produk yang ditujukan untuk pasar perempuan, orangtua maupun remaja.
Kekuatan lain Tetra Pak adalah dukungan dari tim riset mereka. Riset konsumen ini selalu mereka lakukan melalui kerja sama dengan customer (pemilik merek) atau peritel. “Kami mempunyai in-house designer. Tim ini bertugas memberikan masukan kepada customer. Meski para customer biasanya punya agency sendiri, mereka sering berkonsultasi dengan in-house designer kami,” katanya.
Sulit disangkal, kemasan yang bagus mampu mendongkrak sales dari produk itu sendiri. Robert memberi contoh santan Kara produksi Pulau Sambu. Menurutnya, produk ini menarik karena kemasannya dilengkapi dengan resep masakan yang berbasis sari buah kelapa. Dengan begitu, konsumen yang membelinya sekalian bisa mencoba resep itu. Selain karena mutu produk, kemasan menarik ini mampu membuat penjualan Kara melangit. Bahkan, produk ini sudah menjajaki pasar mancanegara seperti China.
Contoh lainnya, Sosro dan susu Ultra. Sosro yang terkenal sebagai teh botol dikemas sedemikian rupa dalam kemasan kotak sehingga konsumen tetap aware bahwa itu produk Sosro. Kemasan susu Ultra pun mengalami inovasi. Kemasannya diformat dalam tiga ukuran sesuai dengan sasaran konsumen, yakni anak-anak, remaja, dan dewasa. Menariknya, kemasan ini dengan satu brand dan isi yang sama bisa menyasar ketiga target market itu sekaligus.
Inovasi tidak hanya dilakukan Tetra Pak pada wilayah bentuk kemasan (packaging shape), tetapi juga produk. Misalnya, produk Milk Shake keluaran ABC. Inovasi juga bisa dilakukan dengan mengubah cluster (penutup) kemasan seperti susu Ultra atau bermain di sedotan seperti Green Tea. Semua disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. “Hal ini dilakukan Ultra Jaya dengan mengganti penutup dalam bentuk cluster ulir. Ini cukup mendongkrak sales yang luar biasa. Padahal ini inovasi yang sangat sederhana. Small inovation tetapi pengaruhnya sangat besar,” tuturnya.
Robert mengakui, pasar industri makanan dan minuman cukup besar. Pada pasar keseluruhan (termasuk kemasan plastik, kaleng, botol gelas, dan sebagainya), market share Tetra Pak masih sekitar 2-4% saja. Tetapi, kalau spesifik di pasar kategori susu cair, mereka cukup dominan menguasai 70-80% pangsa pasar. Sedang, di kategori santan, Tetra Pak bisa mengantongi 90-95%.
Ke depan, Tetra Pak ingin terus berkomitmen sebagai perusahaan jasa kemasan yang andal. “Komitmen kami adalah memproduksi makanan dan minuman yang aman, siap saji, dan tersedia di mana saja. Persis dengan jargon kami, we commit to make food save and available everywhere,” katanya seraya mengatakan, tahun ini mereka menargetkan bisa tumbuh sebesar 21%.
@ Pernah dimuat di Majalah Marketing edisi Oktober 2007
Filed under: Strategi Tagged: | tetra pack